Hujan dan Bisikan Cangkir yang Retak
Angin yang datang tak tentu arah, kini datang membawa awan mendung
Membawa pula daun kering yang luput tersapu oleh bibi
Awan mendung telah bersatu, membawa gemuruh yang menggebu
Orang-orang mulai khawatir dan melangkah cepat
Takut akan air, air, air yang merupakan separuh lebih dari dirinya
Takut, takut apabila emasnya luntur tersiram hujan asam
Tapi bung, ini hanya mendung yang sama seperti kemarin
Mungkin aku hanya akan menikmati kopi di dalam cangkir yang retak
Atau melukis di atas kanvas yang berdebu
Atau bermain di bawah derasnya air hujan yang jatuh ke bumi seolah-olah awan keberatan untuk membawanya
Atau awan mulai bosan membawanya sehingga ia jatuhkan masalah-masalah yang ia bawa?
Membawa masalah yang tak pernah selesai, yang tak tahu kapan berakhirnya
Setelah itu ia hilang, bersamaan dengan hujan yang mereda
Dan kenangan
Tak ada lagi satu kenangan yang dapat berarti baginya
Kopi di dalam cangkir yang retak
Aku telah melukisnya di atas kanvas yang berdebu
Ketika aku bermain di bawah derasnya hujan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar