Sabtu, 31 Maret 2018

Tak Harap Hujan Hari Ini [Puisi]

Tak Harap Hujan Hari Ini
Karya L. Agista


Awan memang terlihat mendung sejak pukul tiga lewat sekian sore tadi
Tak tembus cahaya matahari dari celah kecil kumpulan mega itu
Semilir angin yang bergesek dengan daun beriringan dengan ranting yang berderak dan jatuh
Jatuh dan terinjak oleh orang-orang yang sok berkepentingan
Sok berkuasa dengan sombongnya ia menutup wajah seolah-olah angin hendak melukainya dengan kejam dan tanpa ampun
Pikiran kotornya memaksa untuk berlari sejauh mungkin menghindari dedaunan yang ingin ikut masuk ke dalam tasnya yang penuh dengan dosa-dosa yang tak tanggung-tanggung
Namun angin tak serta-merta mau mengikuti makhluk seperti itu
Ia masih bermesraan dengan pohon Cemara dan sesekali ia belai jambulnya yang menjulang menantang
Air turun dan dengan kejamnya membasahi tanah merah yang tak sempat digali
Namun orang-orang ketakutan minta ampun menerima hantaman air hujan yang menghujam mereka
Berlindung di bawah pohon Akasia yang dengan sabar melindungi siapapun yang ingin berlindung dalam lindungannya
Apabila celah mega terbuka dengan lebar
Menyilahkan sang surya untuk menerobos masuk ke dalam kelamnya bumi di bawah derasnya hujan
"Pelangi akan segera muncul!"
Dengan lantangnya berteriak di bawah hujan yang getir
Seraya menunjuk-nunjuk langit timur yang mendung
Namun pelangi tak muncul
Kecewa ia dan berlari
Hingga hujan berhenti
Dan mereka pun pergi

Kamis, 29 Maret 2018

Samudra Tak Bersalah [Puisi]

Samudra Tak Bersalah
Karya L. Agista


Berjalan ia di atas pasir putih yang tajam tak menggores
Sedikit-sedikit ujung kakinya tersapu oleh ombak yang manja membelainya

Duduklah pantat mungilnya di tepi jembatan dermaga sambil kakinya bermain kecil-kecilan
Namun ia sadar ketika menggoyangkan kakinya di atas lautan kebahagiaan
Berlari menjauh sejauh-jauhnya sambil berteriak ia menjauh
Mendaki keputusasaan yang ia putuskan sendiri
Terjatuhlah ke dalam kubangan bernama kenyataan
Lalu dikuburnya semua kenangan di dalamnya dalam-dalam dalam tumpukan dosa dan dusta
Merintih lagi ia menahan ribuan hujan kenangan yang siap mengisi kekosongan hatinya
Menghujam lagi semua ingatan manis dan pahit yang membumbui jiwanya
Lagi ia meronta di atas tumpukan kebohongan yang ia timbun di atas kepalsuan yang nyata
Lalu perlahan ia hilang bak debu yang terempas angin yang berisik dan berbisik

Terhapuslah jejaknya di atas pasir pantai yang mengering dan basah kemudian
Disapu ombak kekejian yang tak kenal ampun tanpa menyisakannya

Namun pantai tak bersalah
Laut pun tak bersalah

Siapa yang salah
Apa yang salah
Siapa yang tahu

Rabu, 28 Maret 2018

Secarik Kertas dan Ceritanya [Puisi]

Secarik Kertas dan Ceritanya
Karya L. Agista


Secarik kertas kusam yang tertinggal di stasiun kota
Kau membawanya dengan tergesa-gesa
Aku ingat betul raut wajah yang kau tunjukkan padaku
Sedih, marah, gundah, bercampur dengan keringatmu yang berkilau
Kemudian berlari dan dihempas angin lalu

Secarik kertas putih yang terselip di buku yang terbuang
Tapi sayang, ia kusut
Tak ada goresan memang, putih bersih
Namun ia dibuang oleh orang yang berpura-pura dan merasa tidak berdosa
Kertas yang berpola menjadi saksi kepalsuan dan kebiadaban

Secarik kertas bergambar yang tersimpan di dompet anak muda
Ia penuh coretan yang entah bermakna atau tidak
Sekumpulan angka dan huruf yang entah terbaca atau tidak
Anak muda yang menyimpannya dengan hati-hati agar tidak ketahuan
Agar ia dapat menikmati kertasnya sendiri dengan apatis

Secarik kertas berwarna yang terlipat di tepi meja belajar gadis
Warna yang merah padam dengan api sebagai hiasannya
Berkibar tertiup angin yang berembus dari bibirnya
Sepertinya tajam sisi kertas itu
Menggores perlahan dan merobek lidah yang merayunya

Secarik kertas yang tak memiliki cerita
Ia hanya menumpuk menunggu seseorang mengungkapkan ceritanya
Setia menunggu dengan sabar dan tak sabar
Hingga tangan yang datang mulai merabanya dan membelainya
Dan kemudian rusak, ataupun berguna

Iklan [One Shot] [Thriller]


Iklan
Karya L. Agista


            Kadang aku merasa begitu lelah dengan tugas-tugas sekolah yang membuatku setengah gila ini. Bagaimana tidak, pelajaran matematika yang tiap minggunya diberikan 3 kali pertemuan dengan total 6 jam perminggu, selalu saja meninggalkan sebuah pekerjaan rumah. Entah itu Integral Trigonometri yang tak berguna, menghitung tinggi gedung dengan patokan anak kecil yang sedang sekarat di tanah, atau menghitung presentase kematian penduduk di kota A. Sungguh apa ini berguna? Belum lagi pelajaran Biologi yang setiap minggunya diadakan Ulangan Harian, ataupun pelajaran Fisika dimana setiap minggu seluruh siswa pasti kebagian berdiri di depan papan tulis mengerjakan soal-soal tak masuk akal, seperti tabrakan antara dua mobil truk, mengukur berat benda di bulan, dan sebagainya.
            Tugas kali ini adalah mengerjakan 15 soal tentang aplikasi turunan Trigonometri dari soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya, ujian masuk perguruan, dan sebagainya. Dan parahnya lagi, setiap siswa tidak boleh mengerjakan soal yang sama. Ini sebuah kegilaan tanpa batas! Ingin rasanya kulempar wajah guruku itu dengan tinja!
            Pukul 23.27, aku mulai membuka laptopku dan menghubungkannya dengan Wi-Fi tetangga. Ya Tuhan, aku sangat malas sekali mencari bahan-bahan untuk tugas lusa. Aku mulai mencari soal-soal turunan Trigonometri pada mesin pencarian Google. Satu, dua, tiga, empat, lima... dan seterusnya, satu persatu kubuka situs-situs yang berjudul ‘Soal dan penyelesaian turunan trigonometri UN blablablablabla..’.  Tiba-tiba laptopku meredup dan padam. Dalam hati aku berteriak “Anji*ng”. Aku sampai lupa kalau laptop ini sudah kugunakan untuk menonton bahan ‘ritual’ beberapa menit yang lalu, sehingga baterainya lemah. Segera aku mencari chargernya di bawah mejaku.
            “Braaakkkkkkk” Tiba-tiba kaca jendelaku mengeluarkan suaara bantingan keras, sehingga membuatku terbentur meja karena kaget. “sianying ini kenapa sih, ngagetin bangsat” gerutuku pelan. Setelah menghubungkan laptop dengan chargernya, aku memeriksa jendela kamarku yang tadi seperti dibanting seseorang. Aku kaget, jendela kamarku masih terkunci rapat. Aku langsung mundur beberapa langkah karena reflek, jantungku kini tak tenang, dan keringat mulai mengucur dari sekujur tubuhku.
            “Bangkeee, ini maksudnya paan nih? Yakin gua ini tadi dibanting, bukan dilempar ato digebrak” kataku dalam hati. Degup jantungku terdengar jelas, dan hawa menjadi dingin sekali. Beberapa saat kemudian laptopku menyala. “Anjirrr paan lagi nih?” aku menggerutu dalam hati sambil menjauh dari laptop. Perlahan-lahan aku mendekat, melihat dengan seksama layar laptop yang nampaknya normal. “Ohhh shiiitt! Lupa gua kalo mode sleep charged otomatis bangun jam 23.40” kataku dalam hati sambil tersenyum bodoh. Aku buka kunci laptopku, rupanya browserku masih terbuka. Dan tepat sekali, situs terakhir yang aku kunjungi tadi memiliki kumpulan soal UN UAS SIMAK-UI SBMPTN dan soal-soal tes lainnya. Aku sangat beruntung. Kemudian aku klik tombol download di bawah keterangan dari situs tersebut. Lumayan berat juga datanya, kurang lebih 1,34gb berbentuk rar.
            Setelah menunggu loading selesai, ternyata aku dibawa ke sebuah situs survey, “Selesaikan salah satu survey dibawah ini untuk mendownload file”. “Bajingan tengik! Apa-apaan nih bangkee” gerutuku agak kesal. Namun aku terbelak melihat ‘offer’ yang disediakan di situs ini.

>Lihat siapa yang pernah mencoba membubuhmu!
>Apa anda kesal dengan guru anda? Masuk untuk menyelesaikannya!
>Tersebar video Siska Purnamasari dan Andi Yulianto, yuk lihat!
>Orangtuamu tidak akan tahu jika kamu seorang biseksual!
>Apakah kau yakin tidak ingin memilih offer pertama?
>Apakah kau yakin tidak ingin melihat Pacarmu dan sahabatmu Andi sedang mesra-mesraan?
>Gurumu sedang sekarat, ayo bunuh dia!

            Aku sangat terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh situs tersebut. Aku sungguh terkejut, bagaimana ia tahu aku benci dengan guruku? Bagaimana ia tahu bahwa Siska adalah pacarku? Bagaimana ia tahu kalau Andi adalah sahabatku? Astaga, kepalaku hendak pecah karena kebingungan. Tiba-tiba saja laptopku tidak dapat dikendalikan, mouse tidak mau bergerak dan segala tombol tidak dapat diklik. Aku menjadi panik, kemudian kursor pada monitor bergerak sendiri meng-klik offer  ketiga, dan sekejap saja layar berganti dengan video player. Lagi-lagi aku tak dapat melakukan apapun dengan laptopku, bahkan laptop ini menjadi seperti batu saat aku mencoba menutup lidnya. Pada layar aku melihat Siska dan Andi yang sedang mesra di sebuah gubuk, dengan seragam lengkap. Mereka sadar kalau mereka sedang direkam, dan aku mendengar suara Andi samar, “Ssabar, sayang. Kalau kamu gak cukup puas dengan Yoga, punyaku lebih memuaskan. Aku akan menyingkirkan Yoga, sesuai dengan kemauan kamu” Kali ini bukan hanya kepalaku yang panas, tetapi juga hatiku. Tiba-tiba layar kembali ke situs survey yang tadi, kali ini kursor meng-klik offer yang kedua, sekali lagi video player terbuka, kali ini adalah sebuah CCTV di sebuah kamar. Aku sama sekali tidak mengenal kamar ini. Namun aku kenal dengan seseorang yang tidur di atas kasur itu. Ialah Pak Rahmat, guru matematika yang amat kubenci. Pintu kamar itu perlahan terbuka, dan seseorang dengan jaket hitam bertopeng masuk ke dalam dengan mengendap-endap. Tepat di depan pak Rahmat, orang itu berdiri menatap kearahnya, perlahan tangannya meraih sesuatu di balik bajunya. Itu adalah sebuah golok! Apa yang akan dilakukan orang itu!? Tangan orang itu mulai mengayun keatas, dan tiba-tiba saja CCTV men-zoom gambar sampai gambar pak Rahmat benar-benar jelas. Orang itu tadi mengayunkan goloknya dengan cepat kearah dahi pak Rahmat. Batok kepalanya pun terbelah. “AAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHH” aku dengan reflek berteriak, degup jantungku benar-benar tidak stabil, dan apa yang kulihat ini benar-benar mengerikan. Aku memang membenci pak Rahmat, namun sama sekali aku tak berharap kejadian seperti ini. Aku mual dan muntah di bawah mejaku. Saat aku melongokkan kepalaku ke layar laptop, orang itu masih membacok pak rahmat sampai ia benar-benar tak berbentuk. Air mataku mengalir, badanku sangat lemas, dan perutku sangat mual. Layar laptop kembali ke situs survey yang tadi, kali ini kursor meng-klik offer yang pertama. Tidak lama kemudian, file yang aku maksud mulai terunduh. Namun ini agak aneh, kecepatan downloadku menjadi 15mb/s stabil tidak berubah, sehingga beberapa menit saja file 1gigaan itu telah terunduh. Aku sudah tidak semangat untuk membuka file itu, namun aku masih menguatkan diri untuk membuka file yang bernama Kumpulan_SCD.rar
            Saat membuka file, tammpilan tema windowsku berubah menjadi seperti windows XP. Dalam file itu terdapat folder Soal-soal, saat kubuka terdapat sebuah video berjudul 05072017.avi . Astaga! Aku mendownload file aneh kali ini. Tiba-tiba video itu terbuka sendiri, terlihat sebuah gedung sekolahan yang terbakar dengan beberapa orang tergantung di atap-atap depan kelas. SEKOLAHKU! Aku mengutuk apa yang terjadi, perutku menjadi aneh, kepalaku terasa panas, dan aku tak bisa berhenti menangis. Kemudian adegan berganti ke sebuah rumah. Aku kenal rumah ini, ini adalah rumah Siska. Si perekam itu masuk ke dalam rumah dengan mudahnya, dan naik ke lantai atas tempat kamar-kamar keluarga Siska. Aku mendengar seperti sebuah pistol dipompa, kemudian orang itu membuka kamar pertama, itu adalah kamar Ayah dan Ibunya Siska. Muncung pistol terlihat di kamera, dan sebuah tembakan melesat. “TIDAAAAAAAAAAAKKK” aku berteriak reflek, kedua orang tua Siska kini terbujur dengan darah di mana-mana. Kemudian kameraman ini menuju ke kamar lain, ini adalah kamar Siska. Disitu ada Siska dan Andi sedang berpelukan. Aku sudah tidak kaget lagi karena aku sudah tidak kuat sama sekali. Sekali lagi aku mendengar suara pompaan pistol, dan “duarr” peluru tembus ke dua sejoli bajingan itu. Aku sedikit tertawa, namun aku tidak kuat. Tiba-tiba saja dengan cepat rekaman ini pindah ke rumah lain, dia sudah ada di depan kamar seseorang. ASTAGAA! KAMARKU! Aku langsung menjauh dari laptop dan dengan reflek aku menuju pintu kamarku. Dengan sangat gemetar aku membuka pintu dengan perlahan. Dan.....
            Astagaa.... Orang itu tidak ada disana. Aku menjadi tertawa sendiri, karena aku melihat hal-hal bodoh di laptopku, apa mungkin aku sudah gila? Aku tertawa sendiri, tertawa sangat keras, apa yang aku lakukan? Aku berteriak-teriak melihat itu semua? Apa aku benar-benar gila?
            Aku menuju lemariku, mengambil sebuah handycam yang masih hangat. Kemudian kuputar lagi video yang baru saja ku rekam beberapa jam yang lalu. Astaga apa aku bodoh? Apa aku gila? Semua rekaman ini masih sangat orisinil. Bagaimana mungkin aku lupa bahwa aku yang melakukan itu semua? Haahahah bodoh sekali aku... Aku membawa handycamku keluar kamar dan mengambil sebuah golok di dapur. “Siapa lagi yang akan aku habisi, ya?”





 -fin-

Hujan dan Bisikan Cangkir yang Retak [Puisi]


Hujan dan Bisikan Cangkir yang Retak 
Karya L. Agista



Angin yang datang tak tentu arah, kini datang membawa awan mendung
Membawa pula daun kering yang luput tersapu oleh bibi
Awan mendung telah bersatu, membawa gemuruh yang menggebu
Orang-orang mulai khawatir dan melangkah cepat
Takut akan air, air, air yang merupakan separuh lebih dari dirinya
Takut, takut apabila emasnya luntur tersiram hujan asam
Tapi bung, ini hanya mendung yang sama seperti kemarin
Mungkin aku hanya akan menikmati kopi di dalam cangkir yang retak
Atau melukis di atas kanvas yang berdebu
Atau bermain di bawah derasnya air hujan yang jatuh ke bumi seolah-olah awan keberatan untuk membawanya
Atau awan mulai bosan membawanya sehingga ia jatuhkan masalah-masalah yang ia bawa?
Membawa masalah yang tak pernah selesai, yang tak tahu kapan berakhirnya
Setelah itu ia hilang, bersamaan dengan hujan yang mereda
Dan kenangan
Tak ada lagi satu kenangan yang dapat berarti baginya
Kopi di dalam cangkir yang retak
Aku telah melukisnya di atas kanvas yang berdebu
Ketika aku bermain di bawah derasnya hujan