Iklan
Karya L. Agista
Kadang
aku merasa begitu lelah dengan tugas-tugas sekolah yang membuatku setengah gila
ini. Bagaimana tidak, pelajaran matematika yang tiap minggunya diberikan 3 kali
pertemuan dengan total 6 jam perminggu, selalu saja meninggalkan sebuah
pekerjaan rumah. Entah itu Integral Trigonometri yang tak berguna, menghitung
tinggi gedung dengan patokan anak kecil yang sedang sekarat di tanah, atau
menghitung presentase kematian penduduk di kota A. Sungguh apa ini berguna?
Belum lagi pelajaran Biologi yang setiap minggunya diadakan Ulangan Harian,
ataupun pelajaran Fisika dimana setiap minggu seluruh siswa pasti kebagian
berdiri di depan papan tulis mengerjakan soal-soal tak masuk akal, seperti tabrakan
antara dua mobil truk, mengukur berat benda di bulan, dan sebagainya.
Tugas
kali ini adalah mengerjakan 15 soal tentang aplikasi turunan Trigonometri dari
soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya, ujian masuk perguruan, dan sebagainya.
Dan parahnya lagi, setiap siswa tidak boleh mengerjakan soal yang sama. Ini sebuah
kegilaan tanpa batas! Ingin rasanya kulempar wajah guruku itu dengan tinja!
Pukul
23.27, aku mulai membuka laptopku dan menghubungkannya dengan Wi-Fi tetangga.
Ya Tuhan, aku sangat malas sekali mencari bahan-bahan untuk tugas lusa. Aku
mulai mencari soal-soal turunan Trigonometri pada mesin pencarian Google. Satu,
dua, tiga, empat, lima... dan seterusnya, satu persatu kubuka situs-situs yang
berjudul ‘Soal dan penyelesaian turunan trigonometri UN
blablablablabla..’. Tiba-tiba laptopku
meredup dan padam. Dalam hati aku berteriak “Anji*ng”. Aku sampai lupa kalau
laptop ini sudah kugunakan untuk menonton bahan ‘ritual’ beberapa menit yang
lalu, sehingga baterainya lemah. Segera aku mencari chargernya di bawah mejaku.
“Braaakkkkkkk”
Tiba-tiba kaca jendelaku mengeluarkan suaara bantingan keras, sehingga
membuatku terbentur meja karena kaget. “sianying ini kenapa sih, ngagetin
bangsat” gerutuku pelan. Setelah menghubungkan laptop dengan chargernya, aku
memeriksa jendela kamarku yang tadi seperti dibanting seseorang. Aku kaget,
jendela kamarku masih terkunci rapat. Aku langsung mundur beberapa langkah
karena reflek, jantungku kini tak tenang, dan keringat mulai mengucur dari
sekujur tubuhku.
“Bangkeee,
ini maksudnya paan nih? Yakin gua ini tadi dibanting, bukan dilempar ato
digebrak” kataku dalam hati. Degup jantungku terdengar jelas, dan hawa menjadi
dingin sekali. Beberapa saat kemudian laptopku menyala. “Anjirrr paan lagi
nih?” aku menggerutu dalam hati sambil menjauh dari laptop. Perlahan-lahan aku
mendekat, melihat dengan seksama layar laptop yang nampaknya normal. “Ohhh
shiiitt! Lupa gua kalo mode sleep charged otomatis bangun jam 23.40” kataku
dalam hati sambil tersenyum bodoh. Aku buka kunci laptopku, rupanya browserku
masih terbuka. Dan tepat sekali, situs terakhir yang aku kunjungi tadi memiliki
kumpulan soal UN UAS SIMAK-UI SBMPTN dan soal-soal tes lainnya. Aku sangat
beruntung. Kemudian aku klik tombol download di bawah keterangan dari situs
tersebut. Lumayan berat juga datanya, kurang lebih 1,34gb berbentuk rar.
Setelah
menunggu loading selesai, ternyata aku dibawa ke sebuah situs survey,
“Selesaikan salah satu survey dibawah ini untuk mendownload file”. “Bajingan
tengik! Apa-apaan nih bangkee” gerutuku agak kesal. Namun aku terbelak melihat
‘offer’ yang disediakan di situs ini.
>Lihat siapa yang pernah mencoba membubuhmu!
>Apa anda kesal dengan guru anda? Masuk untuk
menyelesaikannya!
>Tersebar video Siska Purnamasari dan Andi
Yulianto, yuk lihat!
>Orangtuamu tidak akan tahu jika kamu seorang biseksual!
>Apakah kau yakin tidak ingin memilih offer
pertama?
>Apakah kau yakin tidak ingin melihat Pacarmu dan
sahabatmu Andi sedang mesra-mesraan?
>Gurumu sedang sekarat, ayo bunuh dia!
Aku
sangat terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh situs tersebut. Aku sungguh
terkejut, bagaimana ia tahu aku benci dengan guruku? Bagaimana ia tahu bahwa
Siska adalah pacarku? Bagaimana ia tahu kalau Andi adalah sahabatku? Astaga,
kepalaku hendak pecah karena kebingungan. Tiba-tiba saja laptopku tidak dapat
dikendalikan, mouse tidak mau bergerak dan segala tombol tidak dapat diklik.
Aku menjadi panik, kemudian kursor pada monitor bergerak sendiri meng-klik offer ketiga, dan sekejap saja layar berganti
dengan video player. Lagi-lagi aku tak dapat melakukan apapun dengan laptopku,
bahkan laptop ini menjadi seperti batu saat aku mencoba menutup lidnya. Pada
layar aku melihat Siska dan Andi yang sedang mesra di sebuah gubuk, dengan
seragam lengkap. Mereka sadar kalau mereka sedang direkam, dan aku mendengar
suara Andi samar, “Ssabar, sayang. Kalau kamu gak cukup puas dengan Yoga,
punyaku lebih memuaskan. Aku akan menyingkirkan Yoga, sesuai dengan kemauan
kamu” Kali ini bukan hanya kepalaku yang panas, tetapi juga hatiku. Tiba-tiba
layar kembali ke situs survey yang tadi, kali ini kursor meng-klik offer yang
kedua, sekali lagi video player terbuka, kali ini adalah sebuah CCTV di sebuah
kamar. Aku sama sekali tidak mengenal kamar ini. Namun aku kenal dengan
seseorang yang tidur di atas kasur itu. Ialah Pak Rahmat, guru matematika yang
amat kubenci. Pintu kamar itu perlahan terbuka, dan seseorang dengan jaket
hitam bertopeng masuk ke dalam dengan mengendap-endap. Tepat di depan pak
Rahmat, orang itu berdiri menatap kearahnya, perlahan tangannya meraih sesuatu
di balik bajunya. Itu adalah sebuah golok! Apa yang akan dilakukan orang itu!?
Tangan orang itu mulai mengayun keatas, dan tiba-tiba saja CCTV men-zoom gambar
sampai gambar pak Rahmat benar-benar jelas. Orang itu tadi mengayunkan goloknya
dengan cepat kearah dahi pak Rahmat. Batok kepalanya pun terbelah.
“AAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHH” aku dengan reflek berteriak, degup jantungku
benar-benar tidak stabil, dan apa yang kulihat ini benar-benar mengerikan. Aku
memang membenci pak Rahmat, namun sama sekali aku tak berharap kejadian seperti
ini. Aku mual dan muntah di bawah mejaku. Saat aku melongokkan kepalaku ke
layar laptop, orang itu masih membacok pak rahmat sampai ia benar-benar tak
berbentuk. Air mataku mengalir, badanku sangat lemas, dan perutku sangat mual.
Layar laptop kembali ke situs survey yang tadi, kali ini kursor meng-klik offer
yang pertama. Tidak lama kemudian, file yang aku maksud mulai terunduh. Namun
ini agak aneh, kecepatan downloadku menjadi 15mb/s stabil tidak berubah,
sehingga beberapa menit saja file 1gigaan itu telah terunduh. Aku sudah tidak
semangat untuk membuka file itu, namun aku masih menguatkan diri untuk membuka
file yang bernama Kumpulan_SCD.rar
Saat
membuka file, tammpilan tema windowsku berubah menjadi seperti windows XP.
Dalam file itu terdapat folder Soal-soal, saat kubuka terdapat sebuah video
berjudul 05072017.avi . Astaga! Aku mendownload file aneh kali ini. Tiba-tiba
video itu terbuka sendiri, terlihat sebuah gedung sekolahan yang terbakar dengan
beberapa orang tergantung di atap-atap depan kelas. SEKOLAHKU! Aku mengutuk apa
yang terjadi, perutku menjadi aneh, kepalaku terasa panas, dan aku tak bisa
berhenti menangis. Kemudian adegan berganti ke sebuah rumah. Aku kenal rumah
ini, ini adalah rumah Siska. Si perekam itu masuk ke dalam rumah dengan
mudahnya, dan naik ke lantai atas tempat kamar-kamar keluarga Siska. Aku
mendengar seperti sebuah pistol dipompa, kemudian orang itu membuka kamar
pertama, itu adalah kamar Ayah dan Ibunya Siska. Muncung pistol terlihat di
kamera, dan sebuah tembakan melesat. “TIDAAAAAAAAAAAKKK” aku berteriak reflek,
kedua orang tua Siska kini terbujur dengan darah di mana-mana. Kemudian
kameraman ini menuju ke kamar lain, ini adalah kamar Siska. Disitu ada Siska
dan Andi sedang berpelukan. Aku sudah tidak kaget lagi karena aku sudah tidak
kuat sama sekali. Sekali lagi aku mendengar suara pompaan pistol, dan “duarr”
peluru tembus ke dua sejoli bajingan itu. Aku sedikit tertawa, namun aku tidak
kuat. Tiba-tiba saja dengan cepat rekaman ini pindah ke rumah lain, dia sudah
ada di depan kamar seseorang. ASTAGAA! KAMARKU! Aku langsung menjauh dari
laptop dan dengan reflek aku menuju pintu kamarku. Dengan sangat gemetar aku
membuka pintu dengan perlahan. Dan.....
Astagaa....
Orang itu tidak ada disana. Aku menjadi tertawa sendiri, karena aku melihat
hal-hal bodoh di laptopku, apa mungkin aku sudah gila? Aku tertawa sendiri,
tertawa sangat keras, apa yang aku lakukan? Aku berteriak-teriak melihat itu
semua? Apa aku benar-benar gila?
Aku
menuju lemariku, mengambil sebuah handycam yang masih hangat. Kemudian kuputar
lagi video yang baru saja ku rekam beberapa jam yang lalu. Astaga apa aku
bodoh? Apa aku gila? Semua rekaman ini masih sangat orisinil. Bagaimana mungkin
aku lupa bahwa aku yang melakukan itu semua? Haahahah bodoh sekali aku... Aku
membawa handycamku keluar kamar dan mengambil sebuah golok di dapur. “Siapa
lagi yang akan aku habisi, ya?”
-fin-