Minggu, 18 November 2018

Padu [Puisi]

Padu
Karya L. Agista


Di musim sendu yang terasa amat dingin
Kakinya berdiri di atas genangan rindu ingin
Tangannya meraih mimpi yang gugur beriring
            Menghirup resah yang retak mengering
Tidak juga aku merasa cukup untuk berpaling
Setidaknya untuk rindu yang terlanjur hening
Yang pernah bergejolak di jiwa yang beriak
              Yang diam setelah lelah berteriak
                                         Aku menyerah
Melepas lelah dari cinta yang terpanah
Mengiring rindu yang tidak tercurah
    Sesekali resah di antara gelisah
     Terkadang pilu di balik ragu
  Tidak juga aku merasa haru
Walau sedikit hati terpaku
Tidak juga aku berpadu
Telah amat membatu
Terlanjur merindu
Telah bersendu
Yang terlalu
Berdebu

Minggu, 09 September 2018

Puisi Ini Adalah Hujan [Puisi]


Puisi Ini Adalah Hujan

Karya L. Agista
 


Aku tak menyangka langit sore itu berputar haluan
Hangatnya sinar jingga digantikan mega-mega hitam
Saat itu aku berhenti di persimpangan jalan
Mencari-cari di mana kau berteduh
Menyusuri jalan setapak yang penuh dengan daun kering yang lupa kausapu
Menyapa segerombol anak kecil yang berlari-lari
Hingga aku tiba di rumahmu

Hujan mulai datang tanpa diundang
Aku ingat ketika kita bertegur sapa di bawah serbuan hujan
Kau dan aku berteduh di bawah pohon rindang yang tanpa pamrih menjaga
Dengan sepasang dafodil yang mekar di bawahnya

Kali ini kuketuk pintu rumahmu
Pamrihkah kau melindungiku?
Namun kau menyuguhkan kopi memori
Yang memaksaku untuk ingat betapa rapuhnya aku

Sepucuk edelwies yang kautanam di pekarangan
Tak terawat namun tetap hidup
Abadi
Setidaknya bukan seperti hujan yang datang semaunya
Dan pergi tanpa berpamitan
Atau seperti mendung yang merebut jingga dari ufuk
Mataharilah aku untukmu hingga terbenam dan timbul esoknya

Hujan berhenti dan kau masih duduk di depanku
Menungguku menghabiskan kopimu yang pahit
Sambil merajut benang yang tak pernah kau ceritakan padaku
Hingga tetes hujan yang jatuh di pipimu menambah coraknya

Aku berharap tak pernah mampir di kala hujan
Atau minum kopi selagi kau merajut
Aroma hujan yang masih menyebar
Memaksaku pulang, dan terlarut dalam mimpi
Mimpi tentang hujan
Dan edelwiesmu di taman