Puisi Ini Adalah Hujan
Karya L. Agista
Aku tak menyangka
langit sore itu berputar haluan
Hangatnya sinar
jingga digantikan mega-mega hitam
Saat itu aku berhenti
di persimpangan jalan
Mencari-cari di mana
kau berteduh
Menyusuri jalan
setapak yang penuh dengan daun kering yang lupa kausapu
Menyapa segerombol
anak kecil yang berlari-lari
Hingga aku tiba di
rumahmu
Hujan mulai datang
tanpa diundang
Aku ingat ketika kita
bertegur sapa di bawah serbuan hujan
Kau dan aku berteduh
di bawah pohon rindang yang tanpa pamrih menjaga
Dengan sepasang
dafodil yang mekar di bawahnya
Kali ini kuketuk
pintu rumahmu
Pamrihkah kau
melindungiku?
Namun kau menyuguhkan
kopi memori
Yang memaksaku untuk
ingat betapa rapuhnya aku
Sepucuk edelwies yang
kautanam di pekarangan
Tak terawat namun
tetap hidup
Abadi
Setidaknya bukan
seperti hujan yang datang semaunya
Dan pergi tanpa
berpamitan
Atau seperti mendung
yang merebut jingga dari ufuk
Mataharilah aku
untukmu hingga terbenam dan timbul esoknya
Hujan berhenti dan
kau masih duduk di depanku
Menungguku menghabiskan
kopimu yang pahit
Sambil merajut benang
yang tak pernah kau ceritakan padaku
Hingga tetes hujan
yang jatuh di pipimu menambah coraknya
Aku berharap tak
pernah mampir di kala hujan
Atau minum kopi
selagi kau merajut
Aroma hujan yang
masih menyebar
Memaksaku pulang, dan
terlarut dalam mimpi
Mimpi tentang hujan
Dan edelwiesmu di
taman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar